Tampilkan postingan dengan label da Way... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label da Way... Tampilkan semua postingan

Ketika Hati Rindu Ramadhan


Ramadhan telah lewat, akan tetapi euforia-nya masih terasa lekat dalam ingatan. Riuh rendah suara tilawah yang berdengung di masjid-masjid. Penuh sesaknya para jama’ah lima waktu sholat. Senyum ceria anak-anak kecil berangkat belajar mengaji di sore hari. Berduyun-duyunnya bapak-bapak dan ibu-ibu menuju pengajian-pengajian menjelang buka puasa. Lantangnya suara mubaligh menyampaikan pesan ilahi menjelang tarawih. Meski semua tak lepas dari kekurangan, minimal suasana seperti itulah yang memberi sensasi sejuk bagi sisi ruhaniyah di hati.

Ramadhan telah lewat, dan barokahnya selalu dirindui. Barokah yang memunculkan kemudahan dalam beribadah. Memburu pahala menjadi candu hingga tiada rasa jemu melakukannya. Menyeru orang kepada kebaikan menjadi tren. Intinya setiap keinginan untuk berbuat baik disambut baik oleh suasana yang tercipta. Terwujudlah kondisi yang amat kondusif untuk tawashou bil haq.

Menilik sudut pandang berbeda bagi setiap orang. Mungkin ada sisi-sisi lain yang berkesan bagi kita selama Ramadhan yang lalu. Tentunya tak bisa untuk disebutkan satu persatu di sini. Yang akhirnya hal tersebut membuat kita tanpa sadar ingin merengek-rengek agar segera menjumpai Ramadhan kembali. Rindu akan Ramadhan senantiasa bergelora di hati kita.

Antara ukhrowi dan duniawi

Sebagaimana telah maklum bagi kita semua, dunia dijadikan medan pengujian. Ada yang lolos, ada pula yang gagal. Pilihannya berupa orientasi hidup. Terpancang pada dunia saja, atau jauh hingga akherat kelak. Ujiann dunia ini hijau menarik di mata. Walhasil, tak sedikit dari hambanya yang tumbang ketika merentasi ujian tersebut.

Dalam sebuah riwayat oleh Bukhori dan Muslim, Anas bin Malik, seorang pemuda yang selalu menyertai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bercerita, bahwa Rasulullah pernah bersabda, "Ada tiga hal yang mengikuti mengikuti mayat ketika di bawa ke kubur, yaitu keluarganya, hartanya dan amalnya. Yang dua kembali dan satu tetap tinggal menyertainya. Keluarga dan hartanya kembali sedang amalnya tetap mengikutinya.”

Sebuah ingatan dari Rasulullah untuk umatnya. Bahwa yang kekal adalah amalan. Sedangkan harta dan keluarga tak mungkin akan menemaninya hingga ke alam sana. Meski demikian, banyak yang gagal memprioritaskan antara 3 hal yang akan menyertainya kelak menuju kehidupan selanjutnya. Demikian juga dalam menyikapi kerinduannya pada bulan Ramadhan. Ada beberapa pihak yang merindukan Ramadhan karena sebab lain.

Sudah menjadi maklum bagi kita, barokah Ramadhan tak terbatas hanya pada barokah ukhrowi saja. Barokah duniawipun tak kalah banyaknya. Tanyalah pada para penjaja makanan. Sehari berjualan keliling di hari biasa, terkalahkan hasilnya dengan hanya beberapa jam berjualan menjelang dan setelah berbuka puasa. Pedagang kain pun bersyukur dengan datangnya Ramadhan. Setiap hari tanpa putus orderan selalu didapat. Berbanding lurus dengan nasib mujur sang Penjahit. Animo orang-orang akan baju baru menjadi keuntungan tersendiri baginya. Dan masih banyak golongan lain yang diuntungkan adanya barokah duniawi tersebut.

Sayangnya, bagi sebagian orang barokah duniawi ini merubah orientasi tujuan kerinduannya akan Ramadhan. Alih-alih merindukan suasana ibadah di bulan Ramadhan, mereka pun merindukan keuntungan duniawi yang bak mendapat durian runtuh. Bahkan, terkesan mereka lebih merindukan faktor kedua daripada yang pertama.

Ibarat pedagang jas hujan yang amat bersyukur ketika musim kemarau berakhir. Ada pihak yang mengharapkan datangnya Ramadhan kembali hanya karena barokah duniawinya saja. Tak lebih.

Miris, ironis, dan menyedihkan jika ternyata kerinduan Ramadhan itu sampai hanya dimaknai serendah itu. Kerinduan akan barokah ukhrowi hilang sirna, tergantikan harapan-harapan duniawi semata. Semoga kita terjauhkan dari itu semua.

Ramadhan dirindui karena suasana khasnya. Karena rahmat-rahmat Allah di dalamnya. Ramadhan adalah bulan yang Allah spesialkan sebagai titik awal perubahan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, atau paling tidak menjadi pemantik bagi semangat ruhiyah yang lesu. Karena itulah kita selalu merindukan Ramadhan.

Ramadhan Sepanjang Masa

Masih seputar rindu Ramadhan, saking rindunya sempat pula terlintas di benak saya, “Ah, alangkah enaknya jika setahun penuh setiap bulannya adalah bulan Ramadhan.” Mengapa Allah tak menciptakan demikian saja? Dan manusia akan berlomba-lomba untuk mengingat-Nya. Manusia tak akan memiliki kecenderungan untuk mengarah kepada perbuatan buruk. Dan hidup akan menjadi lebih tentram.

Tak lama, saya tersadar dan beristighfar telah menghayal yang tidak-tidak. Teringatlah saya tentang kecenderungan sifat manusia. Meski tidak bisa dipukul rata, akan tetapi mayoritas demikian. Manusia cenderung akan terbiasa dan menjadi bosan dengan aktifitas yang sama dan monoton. Kecuali mereka yang dirahmati Allah.

Subhanallah, bisa jadi kalau Allah menjadikan setiap bulan dalam setahun seperti bulan Ramadhan, rasa rindu kita akan bulan tersebut akan hilang digantikan rasa bosan. Belum lagi suasana khas yang biasanya ada akan pudar karena sudah terbiasa. Sungguh, ternyata Allah menciptakan segalanya bukanlah sia-sia belaka. Selalu ada hikmah dibaliknya.

Akhirnya, cukuplah rasa rindu itu menjadi penyemangat kita untuk senantiasa mengharap kehadiran Ramadhan. Harap-harap cemas dengan tiada putus-putus menjaga ibadah-ibadah yang kita rutini di bulan itu sepanjang tahun. Mencoba untuk menanamkan rasa khawatir di dalam hati kita. Jikalau tahun depan tak bisa lagi jumpa, minimal kita sudah mempertahankan eksistensi Ramadhan Sepanjang Masa semampu kita. Allah yang akan menghargai keistiqomahan dan harap rindu kita, meski tak bisa lagi menemuinya.

Refleksi Malam Tirakat

Malam ini, 16 Agustus 2010 bertepatan dengan malam ke-7 Ramadhan 1431 H.Bagi warga negara Indonesia, esok hari merupakan hari peringatan kemerdekaannya dari tangan penjajah. Kita tidak sedang mendebatkan akan sudah belumnyakemerdekaan itu kita raih. Terlebih dari itu semua, malam ini terjadi pertentangan antara dua kubu. Warga negara Indonesia yang memiliki warna keislaman yang kental dan warga negara Indonesia yang biasa dikenal dengan Islam abangan.

Mereka berselisih pendapat, akankah malam ini dihabiskan dengan peringatan malam tirakat, yang biasanya didalangi oleh anak-anak muda dan diisi dentuman-dentumanmusik memperingati perjuangan para pejuang kemerdekaan dahulu yang berjibaku di antara dentuman-dentuman bom. Atau mengisinya dengan dengungan-dengungan tadarusan khas malam-malam Ramadhan yang biasa terdengar di masjid-masjid kampung.

Saya teringat kejadian dua pekan yang lalu. Hari Ahad di pagi hari menjelang Ramadhan. Ketika perjalanan pulang dari acara olahraga pagi, olahraga terakhir sebelum tiba bulan Ramadhan. Saya sempat terkagum-kagum,sepanjang perjalanan saya dapati masyarakat saling bahu membahu bekerja bakti membersihkan lingkungannya. Dalam hati saya berucap, "Subhanallah,masyarakat bekerja bakti membersihkan lingkungan demi menyambut bulan Ramadhan,apakah Allah telah menurunkan hidayah-Nya kepada semua orang?" keterkaguman itu berlanjut hingga hampir mendekati kampung saya.

Menjelang sampai ke kampung, saya melihat seorang bapak berjalan agak cepat sambil memanggul bambu-bambu yang sudah terikat bendera merah putih diujung-ujungnya. Serta merta saya terkesiap. Hilang sudah keterkaguman tadi. Akhrinya saya tersenyum satir, "Oh, iya inikan awal bulan Agustus, pantas saja merekamembersihkan lingkungan" batinku kembali.

Kemudian rasa miris mulai merayapi relung hati ini. Muncul sebuah pertanyaan sekaligus harapan di hati kecilku sebagai seorang Muslim, "Bilakah kiranya mereka bisa sesemangat itu dalam menyambut Ramadhan? Bilakah kiranya mereka bisa sesemangat ini dalam mengisi malam-malam Ramadhannya?"

Ingin rasanya, andaikan bisa, diri ini berkeluh kesah kepada Sultan Hassanudin sang Ayam Jago dari Timur. Kepada Pangeran Diponegoro sang Mujahid gua Selarong. Bagaimana kiranya perasaan mereka menyaksikan semua ini. Beliau yang berkorban jiwa, raga, bahkan tahta demi keterbebasan dari penjajah. Kini rakyat Indonesia malah mengorbankan jiwa,raga, harta dan tahtanya demi mengadakan acara-acara peringatan yang bahkan hampir tak berarti apapun kecuali hanya rutinitas belaka. Kontras. Dalam hayalan seakan diri ini mendengar Pangeran manggil-manggil untuk mengisi malam Ramadhan ini dengan amalan yang lebih bermanfaat daripada ritual tirakat.

Pendapat subjektif saya sebagai seorang Muslim yang kebetulan berkewarganegaraan Indonesia, turut bersyukur dengan malam tirakat yang jatuh bertepatan dengan awal-awal bulan Ramadhan ini. Paling tidak, acara yang sia-sia untuk memperingati kemerdekaan semu itu di gagalkan penyelenggaraannya di beberapa tempat berhubung dengan adanya tadarusan di masjid kampung. Dan saya optimis masih banyak warga negara Indonesia Muslim yang mampu berfikir kritis sekritis Pangeran Diponegoro, yang menyadari bahwa bagaimanapun nyamannya kehidupan kita sekarang. Kita masih terjajah. Terjajah secara tidak sadar oleh intervensi asing yang mencengkeram pemerintahan kita saat ini. Mereka tidak rela melepaskan negeri yang kaya potensi ini.

Terbayang perdebatan sengit antara Pangeran Diponegoro dan para tuan tanah yang sudah disumpal mulutnya dengan uang para penjajah. Perdebatan antara memperjuangkan harga diri dan menyembah dan mengabdikan diri di bawah para penindas. Sang Pangeran tetap berjuang. Meski kemenangan belum diraihnya. Tapi,semangatnya terus diwarisi oleh generasi-generasi penerusnya hingga membawa Indonesia sedikit demi sedikit ke arah kemerdekaan. Membungkam para penindas. Persis sepertiyang terjadi sekarang. Antara orang-orang yang sadar dan yang ter-nina bobo-kan oleh buaian tangan-tangan asing.

Atau mungkin ini bentuk balas dendam pihak asing atas gigihnya perjuangan pejuang Muslim pendahulu kita, sehingga kita bisa sedikit menghirup angin kebebasan saat ini. Mereka tidak ingin kejadian itu terulang. Dan masyarakat Indonesia bisa menghirup sepuasnya angin kemerdekaan mereka, melalui perjuangan pejuang-pejuang Muslim saat ini yang terpenjara dan tertindas sebagaimana nasib sang Pangeran. Tinggalah kita memilih sekarang, menjadi antek penindas atau pewaris semangat sang Pangeran?

Dikecoh yang Fana, Lupa Kuasa-Nya

Saya teringat ketika itu, ketika itu salah seorang saudara berkeluh kesah. Dia bercerita tentang sakit hatinya. Belum lama ini hidayah mulai menyentuh hatinya, dia berjilbab meski baru sekedar saja. Beberapa waktu yang lalu mbakyu dari ayahnya datang bertandang ke rumah. Dia datang bersama putrinya. Kebetulan mereka sebaya. Sama-sama sedang menanti wisuda, kelulusan jenjang S1.

Putri tantenya agak terkaget melihat dia berjilbab rapi sedang dia sendiri tidak berjilbab. Sambil lalu putri tantenya bertanya, “Ih, dek.. apa ga susah nyari kerja kalau jilbaban kayak gitu?” Dia tersentak, tak menduga ada saudaranya yang masih rasis terhadap orang berjilbab pada zaman seperti ini. Sembari menenagkan diri dia menjawabnya sambil tersenyum sebisanya, “Alhamdulillah, kemarin sudah dapet job malahan, rekanan kerjanya juga baik-baik dan sopan.”

Putri tantenya manggut-manggut sambil masih memandang sinis ke arahnya. Beberapa saat kemudian dia kembali bertanya, kali ini lebih menyakitkan, “Dek, misalkan, ada yang nawarin job dengan bayaran tinggi, tapi syaratnya, kamu harus lepas jilbab, kamu terima ga?” Saudaraku mendesah, menata hatinya, mencoba kuatkan imannya, diapun menjawab mantap, “Mbak, aku percaya Allahlah yang mengatur rezeki, insyaallah masih ada tempat lain yang mau menerima karyawan berjilbab.”

Mendegar jawaban saudaraku, dia tertawa sinis, “Kalau aku sih mending, ambil perkerjaannya dek” jawabnya enteng.

Subhanallah, seakan zaman berulang, mundur kebelakang. Muncul kembali ingatan tentang cerita-cerita suram masa lalu. Ketika jilbab belum populer, ketika orang berjilbab masih ditentang habis-habisan, ketika mereka yang berjilbab harus rela telinganya ditusuk kata-kata sinis. Bukan jilbabnya. Tapi, keyakinannya.
Kemudian saya teringat kisah lainnya.

Di siang yang panas, di tengah gurun padang pasir tergeletak seonggok tubuh hitam legam tertindih batu besar. Dadanya yang polos tidak tertutup selembar kainpun tergeletak di atas pasir yang membara. Jangankan telanjang, yang berpakaian lengkappun akan bersegera memasuki rumah-rumah mereka tak tahan akan panasnya suhu udara. Di sampingnya majikannya tak puas-puasnya melecutkan cemeti ke tubuhnya. Beberapa kali terlihat kerongkongannya yang kering dituangi madu. Semakin terbakar rasanya kerongkongan tadi, bertambah pula rasa hausnya. Akan tetapi, dia tidak mungkir, kalimat “Ahad.. ahad.. ahad” senantiasa terdengar di setiap kali bibirnya terbuka.

Kita semua pastilah sudah mengetahui potongan cerita di atas. Episode yang menceritakan perjuangan sahabat Nabi dalam mempertahankan keimanannya. Yang mengagumkan adalah di detik-detik paling kritis dalam hidupnya dia masih saja berucap “Ahad.. ahad” mengagungkan Allah dengan sifat-Nya. Mengapa dia tidak mencukupkan saja siksaannya dengan mengakui bahwa tuhan nenek moyang adalah benar? Mengapa dia tidak berkata pada majikan yang menyiksanya bahwa dia akan kembali kepada nenek moyangnya dan mendapatkan kebebasan? Dan mengapa di tengah keringnya kerongkongannya dia masih saja terus berucap Ahad.. ahad?

Pembaca yang budiman, Bilal bin Rabbah adalah seorang budak berkulit hitam. Rupanya kalah tampan bila dibanding bangsa Arab pada umumnya. Hartanya tidak seberapa. Dia bukanlah seorang saudagar kaya, hanya seorang budak yang di bebaskan dari tuannya. Meskipun demikian peristiwa ini membuktikan kekuatan imannya. Dia telah mengalami ujian keimanan yang berat dan berhasil lulus darinya.Dia menjadi pionir yang merelakan jiwa dan raganya hanya untuk Islam. Allah menjadikannya sebagai contoh yang mulia tanpa memandang rupa maupun hartanya.

Keyakinan akan kuasa Allah membuatnya bertahan dari siksaan yang demikian berat. Dia yakin, bila Allah menghendakinya hidup, maka akan datang seorang penolong yang diutus oleh Allah. Dan apabila takdirnya mati di jalan Allah, maka Allah mengganjarnya dengan balasan yang diimpi-impikan seluruh muslim yaitu Jannah. Keyakinannya selaras dengan sabda Nabi, "Bila kamu meminta maka mintalah kepada Allah. Dan bila kamu memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah" (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih) Inilah tanda kesempurnaan tauhid. Sebuah kepercayaan mutlak kepada Allah.

Demikianlah layaknya seorang muslim dalam meyakini akan kuasa Allah. Dia tidak lagi meragukan bagaimanakah nasibnya esok hari. Bagaimana masa depannya beberapa tahun mendatang. Bagaimana kelanjutan sekolah anak-anaknya. Berikhtiar kemudian tawakal. Dua hal inilah yang menjadi pedoman seorang muslim. Dia tahu bahwa seluruh hidupnya sudah tertulis dalam buku catatan takdir. Dia tidak rela bila harus menukarkan tauhid dengan secuil kenikmatan dunia. Apalagi harus membuangnya demi menggapai dunia yang fana. Celakalah dia dunia dan akherat.

Secara umum kisah yang disitir di awal menunjukkan bukti bahwa saat ini masih ada di antara kita –umat Muslim- yang kurang percaya dan masih meragukan kekuasaan Allah. Atau mungkin masih ada salah seorang dari pembaca yang memiliki sikap seperti itu? Semoga tidak.

Merenungi Hakekat Kehidupan

Ketika itu, masa dimana aku masih menuntut ilmu di sebuah padepokan asri. Di lembah hijau bertanah merah. Tempat dimana aku mendapat banyak ilmu, hakekat, dan kaidah. Tempat para guru membagi pengalaman dan keilmuan merata kepada seluruh muridnya. Tempat dimana aku belajar tentang hakekat kehidupan.

“Adakah dari kalian yang tahu, mengapa manusia diberi kehidupan?” tanya Sang Guru suatu saat. Kala itu aku masih bodoh dan tidak mengerti. Bahkan, teman-temanku yang pandaipun tidak ada yang tepat menjawabnya.

“Untuk beribadah” jawab temanku yang paling pandai. Sang Guru tersenyum sembari berucap, “Betul, tapi belum tepat.” Yang lainnya berusaha menyahut, “Menjadi Khalifah di Bumi”,”Menegakkan syari’at”,”Mendakwahkan Agama” dan masih banyak jawaban lainnya yang berbalas senyuman dan kalimat,”Betul, tapi belum tepat.”

Hingga akhirnya, setelah tak ada lagi yang berucap dan berusaha menjawab, Sang Guru berkata, “Suatu ketika Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu seorang sahabat Rasulullah mendengarkan beliau berbicara tentang kehidupan, beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Orang yang cerdas adalah orang yang bisa menundukkan nafsu dirinya, dan mempersiapkan kematiannya.” Sampai disini Sang Guru tersenyum. Lalu salah seorang murid bertanya, ”Apa hubungannya dengan tujuan manusia diberi kehidupan, Guru?” Sang Guru kembali tersenyum, seraya bertanya, “Adakah diantara kalian yang ingin menjadi orang bodoh?” Kamipun saling tengok dan kesemuanya menggeleng.

“Muridku, hiduplah engkau menjadi orang yang cerdas, dan siapakah mereka itu, apakah ada yang sudah menghafalnya?” Salah seorang menjawab dengan cepat, “Orang yang bisa mengendalikan nafsu dirinya dan mempersiapkan kematian.” Sang guru mengangguk-angguk, masih tersenyum. Pelajaran kali itu berakhir. Aku sendiri masih bingung dengan apa yang dimaksudkan Sang Guru. Tak jauh berbeda dengan murid-murid lainnya.

Hari ini, sekitar sebulan yang lalu. Setelah sekian tahun aku menyelesaikan masa belajar di padepokan itu. Berbekal sedikit ilmu menghadapi tantangan zaman. Mengikis dan terkikis arus perputaran yang tak menentu. Pengalaman menjadi guru, mendidik memahami berbagai kaidah yang telah terhafal dahulu. Tibalah masanya memahami tentang hakekat kehidupan. Lagi-lagi pengalamanlah yang memahamkanku.

Memori hari itu, ketika kutanyakan tentang rencana lanjutannya tahun mendatang. Adik kelasku menjawab dengan jawaban klise khas pemuda, “Mencari pengalaman dahulu, kak.” Aku tersenyum satir. “Jatah waktu kita sedikit, amalan yang menuntut untuk dipenuhi amatlah banyak” pesanku kala itu kepada adik tingkatku. Dan keesokan harinya, tepat sehari setelah aku berpesan. Allah berkehendak untuk memanggilnya terlebih dahulu di usianya yang belum genap kepala dua. Ya, dia meninggalkan dunia ini, sebelum sempat merealisasikan impian-impiannya.

Pembaca yang budiman. Ajal adalah suatu ahwal yang pasti kita temui kelak. Momen wajib baik setiap makhluk bernyawa, yang menandai akhir dari kesempatan hidupnya. Beberapa potong kisah di atas menjadi awalan pembahasan tentang kehidupan. Penggalan pengalaman nyata yang membingungkan. Tetapi, bila kita mau menarik garis merah penghubung. Akan kita dapati sebuah pesan religius yang mencerahkan.

Sang Guru, melalui hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan Syaddad bin Aus mengajarkan kita bahwa tujuan hidup di dunia ini, untuk mati. Ya, kita hidup di dunia untuk dijemput kematian. Entah kematian itu datang cepat, atau kelak ketika usia kita sudah senja.

Pada dasarnya semua perbuatan yang kita lakukan di dunia ini, ibadah, bekerja, istirahat, maksiat, semua akan kita bawa sebagai bekal mempersiapkan kematian. Siapa yang memenuhi keranjang bekalnya dengan makanan, air dan benda bermanfaat lainnya, perjalannannya akan terbantu. Sedang, yang memenuhi keranjangnya dengan kerikil-kerikil, pasir dan bebatuan tak berguna, selain menyusahkan juga akan memberatkan perjalanannya kelak.

Hakekat dunia adalah ladang, tempat kita menanam, merawat, dan menjaga tanaman kita. Harapannya kelak ketika panen segalanya akan menjadi baik. Waktu memanen adalah ketika kita dihampiri kematian kemudian hari. Seluruh yang kita tanam akan kita bawa, entah apapun wujudnya. Sedangkan, kita sendiri tak tahu kapan datangnya waktu panen itu.

Kunci sukses dalam menanam bekal kehidupan ini adalah ikhlas. Ikhlaslah yang esok akan memuaskan kita pada masa panen setelah kematian. Meskipun demikian, tak sedikit pula orang-orang terpedaya dalam tipuan amal. Nampak olehnya telah melakukan amalan setinggi gunung. Seakan-akan ladangnya telah ditanami dengan tumbuhan yang menjanjikan di hari panen kelak. Tapi, karena ketidak ikhlasannya diapun terkaget sesaat setelah panen. Bekal yang dia bawa hanyalah kerikil dan batu tak berguna.

Tipuan itu bernama pamrih. Banyak diantara kita yang terbuai dengan iming-iming ketenaran dan strata, hingga salah memilih amalan yang akan ditanam di ladang dunia ini. Ada yang merasa tidak puas bila sedekahnya yang bernilai tinggi tidak diabadikan dalam jepretan kamera. Ada yang merasa, jasa-jasanya kurang afdhol bila tidak dimuat dalam kolom-kolom berita di koran.

Baik maupun tidaknya sesuatu tidaklah ditentukan dengan jumlah maupun nilai harganya. Pamrih yang menjadi landasan beramal akan menerbangkan tumpukan pahala yang ada, meski banyak jumlahnya, meski jasanya tak terukur dan terbalas.

Karunia kehidupan dan kesempatan menjejakkan langkah di dunia bertujuan untuk mempersiapkan kematian. Hanyalah orang cerdas yang menyadarinya dan menundukkan nafsu dirinya untuk menanam bekal berguna sebanyaknya. Pamrih termasuk pula dalam nafsu diri yang layaknya ditundukkan. Hingga akhirnya, kita tidak terkaget karena di hari panen tidak menemui sedikitpun hasil dari jerih payah kita di dunia. Mulailah menanam untuk hari kematian kelak, tundukkan nafsu diri dan tersenyumlah ketika di akherat berjumpa dengan istana syurga yang kita bangun dengan bata-bata keikhlasan amalan.

Mengecap Manisnya Dunia, Bolehkah?

Dunia ini Allah ciptakan dengan keindahan sedemikian rupa, karena sifat kasih sayang kepada para hamba-NYa. Cobalah sesekali berkunjung ke tempat-tempat wisata. Tidak salah bila kita duduk termenung merenungi ciptaan Allah seperti air terjun, hutan lindung, danau, atau panorama pantai ketika matahari sudah mencapai ufuk barat. Di tempat-tempat itu kita akan dirayapi sebuah perasaan takjub, keindahan yang terkadang sering luput dari perhatian kita.

Suatu ketika Nabi Sulaiman sedang asyik merawat kuda bersayap miliknya. Kuda-kuda itu merupakan tunggangan kesayangan beliau karena kecepatannya yang luarbiasa. Saking sayangnya beliau tidak menyerahkan perawatannya kepada bawahannya. Hingga waktu beribadah menjelang beliau masih asyik dengan kuda-kuda tersebut. Kuda-kudanya melupakannya dari kewajibannya menyembah kepada Allah. Ketika selesai, beliau baru menyadari bahwa waktu beribadah telah lewat. Dengan penuh rasa penyesalan beliau menangis tersedu-sedu. Memohon ampun kepada Allah akan kelalaiannya dari memenuhi hak Allah untuk diibadahi.

Serta merta beliau menuju kandang kuda-kuda bersayap kesayangannya. Meski cintanya demikian besar terhadap kuda-kuda tersebut, namun rasa penyesalannya lebih menggunung. Disembelihnya kuda-kudanya sebagai tebusan akan kelalaiannya dari ibadah. Beliau yakin cinta pada Allah lebih berharga dari cinta pada dunia yang hina.

Kisah tentang Nabi Sulaiman ini meski berasal dari kisah Isro’iliyat, dan masih diragukan keshohihannya, akan tetapi paling tidak bisa memberi kita gambaran tentang dahsyatnya godaan dunia. Jarang sekali manusia yang bisa luput dari godaannya. Karena memang Allah ciptakan dunia ini sebagai kenikmatan yang menipu.

Obsesi dan ambisi. Dua istilah ini yang tidak jarang menjadi sarana penipuan bila salah penempatannya. Ketika kita mulai terobsesi akan sesuatu yang benilai duniawi kita terlupa akan posisi kita sebagai seorang hamba. Saat ambisi akan suatu tujuan muncul, terkadang kita lupa untuk memenuhi hak-hak Allah sebagai Dzat yang menciptakan kita.

Namun, adapula sekelompok manusia yang gamang dalam menyikapi dunia. Dia benar-benar berusaha untuk tidak menyentuh sedikitpun keindahan dunia. Ketakutan yang demikian besar kalau-kalau dia tertipu godaannya.

Berbanding terbalik dengan hamba dunia. Mereka enggan menikah. Tidak tertarik dengan kehidupan mewah. Rumahnya tak lebih dari ruangan yang cukup untuk merebahkan badan, bahkan tidak jarang hanya berupa kain dipancangkan membentuk tenda sederhana. Makanan yang dikonsumsi hanyalah roti keras atau beras yang tak layak makan. Pakaian compang-camping dianggap cukup sebagai penutup badannya. Hidupnya hanya dihabiskan untuk memuja-muji Allah. Beribadah tanpa mengenal waktu. Akherat menjadi tujuan hidup mereka tanpa melirik sedikitpun dunianya.

Terkadang kehidupan semacam ini menjadi pelampiasan para hamba dunia yang terhempas karena tipuannya. Mereka yang jatuh terpuruk setelah dunia mengecohnya. Godaan dunia menipunya karena terbutakan dengan ambisi dan obsesi. Berbondong-bondong mereka meninggalkan dunianya menjadi orang-orang sufi. Seakan mereka telah menemukan cahaya dalam kelamnya kehidupan mereka sebelumnya.

Mirisnya mereka melupakan tugas yang Allah bebankan kepada Adam di awal penciptaan dahulu. Allah memberi tanggungjawab Adam sebagai seorang khalifah dimuka bumi. Mengatur bumi, mencegahnya dari kerusakan, dan membumikan syari’at. Dengan menjadi orang-orang sufi, secara tidak langsung mereka telah melupakan kewajiban yang satu ini.

Masih terngiang perkataan ibunda Aisyah tentang Umar bin Khottob saat melihat para pemuda hanya terpekur di tempat ibadah, berjalan lemas dengan muka tertunduk, “Wahai pemuda, ketahuilah Umar adalah sebaik-baik ahli ibadah, tetapi ketika dia berkata lantang, ketika berjalan tegap, ketika memukul pun terasa sakit”.

Atau, kisah seorang mujahid, ahli ibadah, ahli ilmu, Ibnul Mubarrok, yang mengirim syair kepada Fudahil bin ‘Iyadh sebagai penjaga tanah Haramain. Dia adalah sebaik- baik contoh pada masanya, dia sangat wara’ tetapi tidak meninggalkan dunianya sama sekali. Bahkan, dalam sebuah riwayat dikisahkan dia menanggung biaya haji orang sekampungnya.

Suatu ketika Ibnul Mubarok mendatangkan kafilah dagang dari khurosan ke mekkah, kemudian al- Fudhail berkomentar, “Wahai Al Mubarak Anda telah memerintahkan kepada kami agar berlaku zuhud, menyedikitkan hal-hal duniawi dan merasa cukup namun kami melihat anda membawa barang-barang dari negara khurasan ke tanah mekah, bagaimana kamu melakukan itu? Ibnu Al Mubarak menjawab, “Wahai Abu Ali, sesungguhnya aku melakukan hal itu untuk menjaga diriku, menjaga kehormatanku dan untuk menopang dalam bertaat kepada Allah, aku tidak melihat kebaikan kecuali aku harus melakukannya dengan cepat.” Subhanallah, sangat cerdas apa yang dilakukan oleh beliau Ibnul Mubarok. Memanfaatkan dunianya untuk menyokong kepentingan akhiratnya kelak.

Dunia kerap kali menipu kita dengan pesonanya. Namun, bukan berarti kita menjadi antipati dan meninggalkannya total. Menjadi hamba dunia bukan pilihan yang tepat. Akan tetapi, mengebiri diri dengan menjadi orang sufi juga bukanlah solusi yang dibutuhkan.

Pernah suatu kali Rasul mendengar ada sahabatnya yang berniat untuk menjauhi dunia, “Aku akan berpuasa terus menerus tanpa berbuka, aku akan sholat semalam suntuk tanpa berhenti untuk tidur, aku akan melajang terus tanpa menikahi wanita.” Rasul yakin, tujuan mereka hanyalah satu, untuk semakin mendekatkan dirinya kepada Allah. Meskipun demikian, beliau menegur mereka, “Aku adalah sebaik-baik hamba Allah, tetapi aku puasa dan aku berbuka, aku sholat malam dan aku tidur, akupun menikahi wanita.” Demikian Rasulullah junjungan kita mencontohkan. Menikmati dunia sebagai tanda syukur, bukan antipati terhadapnya atau malah bertamak-tamak mengejarnya.

Kematian.. Kematian..

Mencoba mengais sedikit memori yang telah pecah berkeping. Ketika beberapa waktu yang lalu dirinya berkunjung ke papan tempat tinggalku. Seperti biasa, kelakarnya yang tak jua berubah, masih sama seperti tahun-tahun yang lalu.

Kedatangannya yang tidak terduga, “Hanya mampir selepas pejalanan ke desa seberang” demikian ujarnya. Kami yang mulanya tidak begitu akrab tiba-tiba berubah “pyuur” seakrab veteran perang yang berpuluh-puluh tahun berjuang bersama, lalu berjumpa kembali beberapa kurun setelahnya.

Yah, akhir hari itu aku tidak bisa memenuhi permintaanya. Mengantarnya ke pasar sandang, guna membeli secarik-dua carik kain. Aku meninggalkannya sambil berpesan, selamat jalan sahabat.. sodara.

Kemarin malam. Jum’at malam sabtu tepatnya. Dan sekarang hari ahad dini hari. Saat ku terjaga tiba-tiba. Melihat kolom chat yang saling berebutan tanpa ada tanggapan dari tuannya. Ah, tiba-tiba perasaanku menjadi kurang nyaman melihat kolom itu satu-persatu. Malam yang biasa-biasa saja, ternyata harus berakhir dengan sedikit perih terluka. Yah, memang ajal adalah sebaik-baik pengingat.

Dia, seorang pengajar di pondok pesantren sederhana. Meski tidak luput dari salah dan cela. Tapi Allah telah memilihnya. Mengakhiri kisah hidupnya dengan kondisi yang mulia.

Sedikit aku berkata-kata.. merangakai beberapa aksara.. mengingatkan diri kembali dengan maut yang datang tiba-tiba.. kemarin masih bersua dengan senyum khasnya.. malam ini tak terduga telah kembali ke haribaanNYA.. ah, sahabat.. sodara.. semoga ku bisa tetap istiqomah sepertinya..

Memoar untuk Fujail Robbani.. semoga Allah merahmatinya.. bersua berpisah merupakan kodrat yang selayaknya menjadi peringatan bagi kita, karena hidup tidaklah selamanya

Ketika Janji Seringan Kapas

Sebut saja Rika, si kecil yang belum genap berusia sepuluh tahun ini kerap merengek- rengek bila keinginannya tidak dipenuhi. Suatu saat dia ingin pulang kerumah ketika ibunya masih sibuk dengan ibu- ibu arisan lainnya, terang saja ibunya tak segera menanggapi permintaannya. Bisa ditebak, beberapa saat setelah itu tangisan menyayat andalan Rika pun membahana. Hanya butuh waktu sedetik untuk menarik perhatian setiap hadirin yang datang. Ternyata ibunya tak kalah pintar. Dihampirinya Rika, kemudian diiming- imingi dengan janji membelikan makanan kesukaannya. Terbayang sekotak coklat yang akan dinikmatinya, tangisnya pun berhenti.

Beberapa saat setelah acara arisan berakhir, Rika pulang bersama ibunya. Tertidurlah Rika sepanjang perjalanan pulang, kelelahan nampaknya dia setelah harinya dihabiskan bersama ibunya menghadiri acara yang menurutnya menjemukan. Selepas tidurnya, Rika celingukan mencari sekotak coklat yang ibunya janjikan. Tidak ada. Ternyata coklat yang dijanjikan belum di dapatinya. Segera dia menuju ke tempat ibunya berada dan mulai merengek- rengek. Terkagetlah dia, ternyata ibunya bukannya memenuhi janjinya tetapi malah balik memarahinya. “Anak kok malu- maluin saja. Tidak lihat apa ibu sedang sibuk arisan !!, sudah sana tidur, ndak bakal ibu belikan coklat !! jangan diulangi lagi !!.” bentak ibunya. Terperangah Rika mendengarnya. Hal ini bukan sekali- dua kali dia alami. Berulang kali terjadi hal yang sama, meski tak setiap waktu disertai bentakan dari ibunya.

Sebuah kisah fiksi singkat memulai pembahasan ini. Tanpa kita sadari, meski tidak sepersis itu terkadang kita sering melakukan hal semisal. Mulai dari janji untuk pulang tepat waktu kepada sang istri yang terlupa ketika sudah asyik berbincang dengan klien tentang pekerjaan. Atau janji membelikan oleh- oleh untuk si kecil sepulang dari bepergian jauh. Sekecil apapun bentuknya, yang kita katakan itu adalah janji.

Begitu mudahnya kita mengingkari janji yang kerap kali kita katakan, semudah itu pula kita mengumbar- umbar janji- janji manis. Kasus yang ada bisa diibaratkan seperti seorang pangeran yang sedang berjuang untuk menggaet pujaan hatinya. Sejuta bualan dia katakan untuk merebut perhatian sang pujaan hati dan memastikannya tertawan dalam pesona semu. Singkatnya analogi “Seorang pangeran yang berburu pujaan hati” ini bila di pandang melalui keumuman masalah maka bisa dimaknai, ketika seseorang sedang memburu tujannya maka tak jarang bualan- bualan itu dia ucapkan untuk mencapai citanya.

Itulah kebiasaan janjiholic yang mulai menjamur di kalangan kita. Mudah berjanji, mudah bersumpah. Bahkan, ada pula orang yang sampai pada tingkatan latah dalam mengucap janjinya. Malah terkadang dia sendiri tak sadar bahwa dirinya telah berjanji. Sedemikian murahnya janji pada masa kini.

Fenomena lucu yang kerap kita saksikan, kerap kali ada pungguk menjanjikan akan menghadirkan bulan di hadapan kita. Secara rasional, pungguk hanyalah perindu bulan yang tak mungkin bisa mendatangkannya, hal itu merupakan suatu kemustahilan yang tak perlu diragukan lagi. Tapi ini yang terjadi pada kita sekarang. Mempercayai janji orang yang bahkan membayangkan untuk memenuhi janjinya saja tidak sanggup, akan tetapi bermodal dengan manisnya lisan setiap orang pasti akan mengangguk percaya. Siapa yang salah ? pengumbar janji ataukah yang mempercayainya ?.

Implikasinya rasa kecewa adalah ekspresi pertama ketika ternyata janji itu hanya sekedar pemanis tanpa realisasi. Selanjutnya tumbuh rasa dengki dan dendam. Akan tetapi tak jarang pula ada yang kemudian ganti termakan janji manis yang lain, melupakan pengalaman pahit yang lalu. Seakan menjadi korban janji sudah menjadi hobi kita.

Adapula yang akhirnya menjadi janjiphobia, antipati kepada siapapun yang menjanjikan sesuatu hal kepadanya tanpa pandang bulu. Dia menjadi sangat jijik dengan setiap janji- janji. Seakan menyamaratakan setiap yang berjanji pasti tidak akan menepatinya. Janjinya hanyalah sebagai pemanis kata saja.

Bagaimanapun, janjiholic maupun janjiphobia sudah menjadi bagian dari hidup kita. Negatif. Pasti setiap orang yang masih bisa berpikir sehat akan berpendapat sama. Lalu bagaimana cara kita bisa menghindari dua kategori sifat negatif di atas ?

Hendaknya bagi para janjiholic sadar diri setiap akan mengumbar janjinya. Bisakah dia menepatinya ?. Ingat, janji adalah hutang. Setiap hutang wajib kita lunasi, atau minim kita harus meminta kehalalan kepada pihak yang kita beri janji supaya mengikhlaskannya. Seorang muslim yang mati syahid pun ditahan Allah di pintu Syruga dikarenakan hutangnya, menanti orang yang dihutangi tadi mengikhlaskannya. Lalu kira- kira bagaimana nasib para janjiholic bila dia tidak menepati janji- janjinya ?.

Teruntuk para janjiphobia, tak perlulah terlalu paranoid dengan janji- janji. Bagaimanapun hal itu tak bisa lepas dari kehidupan kita. Toh, di dunia ini tak semua orang berjiwa penipu, masih ada orang yang sangat menghargai janji- janji mereka. Paling tidak, sebelum mempercayai sebuah janji, kita bisa mempertimbangkan kapabilitas si pemberi janji. Akankah dia mampu melakukannya ?.

Status janji sebagai hutang menjadi pemacu kita untuk melakukannya, bukan hanya pemanis kata, bukan pula sekedar perangkap mangsa. Janji kelak akan dimintai pertanggung jawabannya, sekecil apapun bentuknya. Karenanya perhatikanlah lisan kita, jangan sampai dia menjerat kita di perhintungan amal di akherat sana.

Uzlah.. Jalan Terakhir

Seorang sahabat Rasulullah bernama Abu Bakrah menceritakan bahwa Rasulullah pernah bersabda dalam hadits panjang yang diriwayatkan oleh Muslim,

Sungguh, akan datang banyak fitnah. Ketahuailah, kemudian (setelah itu) akan datang sebuah fitnah. Orang yang duduk (membiarkan) ketika itu lebih baik daripada orang yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik dari orang yang berlari. Ketahuilah, jika fitnah (itu) sudah turun atau terjadi, maka bagi yang memiliki unta, hendaklah ia menggembalakan untanya. Dan bagi yang memiliki kambing, hendaklahia menggembalakan kambingnya. Dan bagi yang memiliki tanah, hendaklah ia menggarap tanahnya.”

Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan orang yang tidak memiliki unta, kambing, maupun tanah ?”. Beliau menjawab, “Dia pergi mencari pedangnya lalu memukul bagian tajamnya dengan batu, kemudian hendaklah ia pergi menyelamatkan diri –bila ia mampu untuk menyelamatkan diri. Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikan kepada mereka? Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan kepada mereka?”

Seseorang bertanya kembali, “Wahai Rasulullah, bagaimana andai aku dipaksa oleh mereka hingga membawaku pergi dan masuk kedalam salah satu kelompok diantara mereka. Lalu aku dibunuh oleh pedang mereka atau oleh anak panah mereka ?” Maka Rasul menjawab,

“Dialah yang akan memikul dosanya dan juga dosamu dan dia yang akan menjadi penghuni neraka.”

Ikhwati fillah..

Melalui hadits di atas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Uzlah merupakan salah satu bagian daripada sempurnanya syariat ini. Sempurnanya syariat bisa dilihat dengan jelasnya pedoman dalam berbagai keadaan. Apakah berperang atau berdamai. Berhijrah atau menetap. Individu atau beramai- ramai. Beruzlah atau berbaur dengan masyarakat.

Ikhwati fillah..

Rasulullah junjungan kita telah memberi rambu- rambu kapankah seharusnya kita melakukan uzlah. Uzlah bisa menjadi mubah, sunah, wajib, bahkan haram.”Kesemua ini ditimbang berdasar kemampuan pelakunya dan maslahah yang ditimbulkan.” Sebagaimana disampaikan Dr. Salman Al-Audah dalam bukunya.

Melalui nash yang ada, paling tidak Rasulullah telah memperingatkan kita untuk beruzlah ketika muncul 3 perkara ini :

Pertama : Ketika zaman telah rusak. Dimana kemaksiatan merajalela. Amalan shalih menjadi begitu asing. Setiap manusia hampir terbawa dalam arus kejelekan. Maka saat itulah uzlah disyariatkan.

Kedua : Ketika fitnah telah muncul. Fitnah disini yang dimaksud adalah sebagaimana perkataan Al- Hafidz Ibnu Hajar, “Fitnah adalah sesuatu yang muncul akibat perpecahan demi memperebutkan kekuasaan dimana tidak diketahui orang yang benar dan yang tidak benar.” Pengibaratan lain oleh para ulama’ yaitu ibarat sebuah kafilah yang ditimpa badai di tengah padang pasir. Yang satu menyeru ke kanan. Yang lain menyeru ke kiri. Disaat itulah golongan yang diam beruzlah menanti berhentinya badailah yang selamat.

Ketiga : Beruzlah dari kejamnya penguasa. Dalam perkara ini Al- Hafidz Ibnu Hajar berpesan kepada kita, “Tidak berangkat berperang dengan mereka. Dan kabur dari fitnah mereka dengan membawa dien kalian masing- masing.”

Beruzlahlah untuk menyelamatkan agamamu..

Ikhwati fillah..

Mungkin muncul dalam benak kita, apakah kita akan meninggalkan dakwah ?, apakah kita akan tinggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar ?, apa kita akan biarkan manusia tenggelam dalam fitnah tanpa ada yang memperingatkan ?.

Dalam hal ini setiap orang memiliki bagian masing- masing. Ada diantara mereka yang diharuskan untuk beruzlah kulli (sepenuhnya) tanpa harus memperdulikan nasib yang lain. Sebab, ditakutkan dengan berkumpulnya dia bersama manusia dia akan terwarnai oleh kerusakan mereka. Sebagaimana sabda Rasulullah `,

“Ketahuilah, jika fitnah (itu) sudah turun atau terjadi, maka bagi yang memiliki unta, hendaklah ia menggembalakan untanya. Dan bagi yang memiliki kambing, hendaklahia menggembalakan kambingnya. Dan bagi yang memiliki tanah, hendaklah ia menggarap tanahnya.”

Akan tetapi ada pula sebagian manusia yang disyariatkan atasnya untuk beruzlah juz’i (sebagian), degan tetap berbaur dengan umumnya manusia, Uzlah mereka dengan menghindari kerusakan yang terjadi meski secara fisik mereka senantiasa bersinggungan dengan mereka. Merekalah yang memiliki kekuatan dan keteguhan iman. Dan golongan ini hanya sedikit pada masa itu. Abdullah bin Mas’ud z berkata, “Berbaurlah dengan manusia dan pisahkan diri kalian dari mereka, berjabat taganlah tapi jangan lukai agama kalian.” Dia tetap berbaur dengan manusia tanpa ikut dalam hiruk pikuk fitnah yang muncul.

Ikhwati fillah..

Lalu, bagaimana dengan kita sekarang ? bagaimanakah posisi kita terhadap syari’at ini. Melihat kerusakan zaman yang semakin menjadi- jadi haruskah kita beruzlah ?.

Ikhwati fillah..

Pada masa ini uzlah yang kita lakukan adalah uzlah juz’i. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Abu Sulaiman Al-Khatthabi : “Uzlah yang kami maksud bukanlah uzlah dalam bentuk menjauhi manusia sehingga tidak mau shalat jama’ah dan shalat jum’at bersama mereka. Atau sampai meninggalkan hak- hak mereka dalam ibadah dan tidak mau menyebarkan dan menjawab salam, serta melepas tugas, tanggung jawab, dan kebiasaan- kebiasaan baik di antara mereka, sungguh itu semua tetap dijalankan selama terpenuhi syarat- syarat dan berjalan di atas relnya, dan selama tidak ada penghalang serta uzur untuk melakukannya. Akan tetapi uzlah yang kami maksud adalah pergaulan yang tidak melebihi batas dan tidak berlebih- lebihan serta membatasi dari perkara- perkara yang tidak mendatangkan faedah.”

Semoga Allah senantiasa memberi keteguhan pada kita dalam berjuang. Bertahan dari terpaan gelombang kerusakan. Mewarnai dan tidak terwarnai. Atau minimal kita tetap bisa menjaga dien kita sendiri.

Tetang multiple intelligence..

Ketika pening melanda.. deadline tugas membayang di depan mata.. kantuk memberatkan mata.. badan sudah merebah di atas pembaringan seadanya.. tiba- tiba ku dikejutkan dengan sapaan di kolom chat.. “thuk..”
Sebuah nama dari teman baruku muncul menyapa. Basa- basi sebentar mencairkan suasana. Ku bagi permasalahanku padanya. Meringankan beban otak ini agar tidak meletup karena tegang.
Sampai akhirnya mucul suatu pertanyaan yang mungkin setiap kita bingung menjawabnya. “ Kamu thuw pinternya apa ?? “
Berabad- abad lamanya kekuatan hapalan menjadi patokan nilai cerdasnya seseorang. Hingga pada tahun 1987 Howard Gardner mengungkap kembali adanya bentuk- bentuk kecerdasan yang lain. Ups.. mungkin ada yang bertanya kenapa ku pakai kata “mengungkap kembali” ??. percaya tidak percaya.. multiple intelligence telah ditemukan berabad- abad yang lampau oleh Rasul kita tercinta.
Pernah tahu siapakah bilal bin Rabbah ??. seorang budak berkulit hitam. Yang pastinya setiap orang bisa menduga bahwa dia memiliki tingkat inteligensi yang pas- pasan. Dan yang menjadi suatu kekaguman bahwa Rasulullah sendiri tidak memaksakan kehendak kepada Bilal bin Rabbah untuk menjadi seorang ulama’ dengan berjuta- juta dalil di kepalanya. Tapi Rasulullah yang dengan jeli memandang sisi intelegensi Bilal menempatkannya pada posisi seorang muadzin.
Usaid bin hudair.. sebuah nama sahabat yang sungguh sangat asing di telinga kita. Tapi beliau mengalami kejadian luar biasa. Beliau membuat takjub para malaikat dengan indahnya bacaan beliau. Hingga Rasulullah bersabda “Jikalau engkau lanjutkan bacaanmu, manusia akan menyaksikan malaikat dengan mata telanjang”. Rasulullah tidak jarang memuji beberapa sahabatnya agar memperbagus bacaan Al- Qur’annya, termasuk di dalamnya sahabat Usaid bin Hudair ini sendiri. Tanpa memaksa mereka melakukan bentuk- bentuk kecerdasan lainnya.
Andai teman- teman ada kesempatan dan menyempatkan untuk menelaah sirah- sirah para sahabat. Kita akan mendapati betapa Rasulullah benar- benar tahu betul kecerdasan- kecerdasan model apa yang dimiliki tiap sahabatnya. Ada sahabat yang memiliki kecerdasan dibidang bahasa maka Rasul mengutusnya untuk mendalami bahasa- bahasa asing. Ada sahabat yang cenderung kepada kecerdasan bodi- kinestetik Rasulullah memberinya tugas pada posisi yang tepat.
Keberhasilan dan kejayaan Islam tak lepas dari keberhasilan Rasulullah dalam mengidentifikasi kecerdasan para sahabatnya. Hingga pada akhirnya Rasulullah bisa menempatkan orang yanga tepat pada tempat yang tepat. Subhanallah..

Altruism..

Altruism.. sebuah kata yang tidak umum dipergunakan dalam percakapan. Namun inilah kata yang memiliki makna yang luar biasa. Jika saja dunia ini kosong dari kata ini, tentulah tidak ada yang mampu bertahan hidup di alam semesta ini.

Sebuah perasaan yang mampu membuat suatu makhluk rela berkorban membiarkan dirinya merasakan sesuatu yang kurang menyenangkan demi sebuah kesenangan bias dirasakan oleh orang lain. Bahkan, terkadang sampai rela memberikan nyawa sebagai taruhan untuk secercah senyuman yang ada tecipta di wajah orang lain.

Pengorbanan Pinguin.. yang rela berdingin- dingin berdiri mengerami telurnya, menggigil untuk memberi kehangatan bagi kelangsungan hidup anaknya. Rela tidak makan berbulan- bulan untuk menetaskan sang buah hati. Menunggu sang betina mencari makan dalam kurun waktu yang lama.

Seekor kuda laut jantan.. yang menjadikan perutnya tempat menetas telur- telur. Menjadikan tubuhnya taruhan bagi kehidupan kuda laut- kuda laut kecil belahan jiwanya.. dan semua itu tentunya tidak mudah.. tak sesimple yang dipaparkan..

Namun.. bila kita menilik sebuah kata bijak, entah dari siapa yang mengatakannya..

“JANGANLAH ENGKAU MENJADI LILIN YANG MENERANGI ORANG LAIN.. SEDANG DIA MENGHANCURKAN DIRINYA SENDIRI”

Apakah betul kata- kata ini ?? Jujur.. aku sempat kaget waktu petama kali mendengarnya. Apakah bisa membuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain tanpa mengorbankan kepentingan diri kita ?? Apakah ada orang yang berkorban tanpa ada yang dikorbankan ??

Tapi sungguh sangat disayangkan, di antara berjuta- juta orang yang berjubel sesak di muka bumi ini. Secara tidak langsung, banyak pribadi mereka yang terbangun dari kata- kata bijak (red : enggak bijak ) tesebut.

Walhasil.. jangan heran jika kita nanti menemui orang yang pelit, bakhil, stingy, atau mikirin diri sendiri, egois. Jadilah tercipta orang- orang yang terlalu mementingkan diri sendiri. Terbentuklah pribadi- pribadi individualis yang masa bodoh dengan , acuh tak acuh, buang muka, tidak perduli dengan nasib orang lain.

Bukan maksud hati menyalahkan kata bijak (red : tidak bijak) tadi.. akan tetapi apakah mereka tidak malu dengan Altruism si penguin, Altruism si kuda laut, dan masih banyak Altruism- Altruism lainnya yang tidak sempat tersebutkan disini..

Altruism.. dibuka dengan kata itu. Di akhiri dengannya juga.. mari kita suburkan rasa itu dalam hati..

Aku Menjual Cinta...

Aku ingin menjual cintaku..
Menghilangkannya dari relung hati ini..
Ciinta yang mengagungkan sesuatu lebih dari selayaknya
Cinta yang menutup mataku.. membutakan inderaku..
Cinta yang menhancurkan segalanya saat dia pergi..
Cinta yang menipuku telak..
telak..

Dan aku menjual cinta..
Aku menjualnya.. siapakah yang akan membelinya..
siapa yang layak membelinya..

Aku menjual cinta..
bukan pada yang membutuhkan..
Aku menjualnya.. pada yang Maha Memiliki Cinta..
karena hati ini tak mampu lagi menanggung cinta palsu..
melukai.. menyayat.. meremukkan.. meninggalkan goresan dalam..

Aku menjual cintaku.. kembali pada yang memiliki cinta..
Wahai Pemilik cinta.. Tukarlah cintaku ini dengan cinta yang sederhana..
tak memanjangkan anganku.. tak menutup perasaanku..
cinta yang nyata.. selamanya..

Dan aku harus menjual cintaku..

Sejenak sebelum nyawa itu pergi

Ketika nyawa ini di ambang pintu maut.. ketika malaikat maut telah datang mengetuk pintu kehidupan.. terbayangakankah olehmu.. apakah yang kan engkau ucapkan di penghujung hayatmu ??

Teringat kisah hidup seorang kakek tua.. yang menghabiskan masa tuanya dengan bernyanyi dan tertawa.. tak terduga sang pencabut nyawa tiba- tiba datang bertamu.. menjemput ruhnya lepas dari raga yang sedang bergelimang harta dunia yang hina.. disaat suaranya membuai jutaan penggemarnya.. disaat manusia terganggu memorinya dengan nada sumbangnya..

Sungguh.. hingga hari ini telinga ini masih saja terngiang lantunan nada- nada gubahannya.. tapi apakah itu bekal yang kita cari ?? apakah itu yang menjadi jaminan hidup akhirat kita ??

Masih lekat dalam ingatan kisah seorang nenek tua.. Sehari- harinya dihabiskan untuk bekerja menjadi pembantu di rumah majikannya.. di usianya yang cukup renta dia masih bergelut dengan kerasnya kehidupan..

Menjelang sore.. saat dia selesai dari tanggungan pekerjaan.. saat dimana capai dan kantuk menyatu.. teringat dia akan sesuatu.. kajian rutin sore.. suara tilawah telah mendayu- dayu memanggilnya.. segera dia bergegas menuju rumahnya untuk bersiap mendatangi panggilan itu.. hilanglah rasa capai.. rasa lelah.. kantuk..

Hati ini tersentuh.. menyaksikan 2 realita kehidupan.. Akankah akhir hayat ini berakhir seperti sang kakek.. dengan gelimang harta dan kemasyhuran.. tanpa ilmu akherat bekalan utama ?? ataukah akan seperti si nenek tua yang hidupnya pas- pasan.. tetapi dia yakin akan janjiNYA di akherat kelak..

Ya Allah.. kami memohon kepadamu.. karunia taubat sebelum ajal kami.. rezeki syahadah ketika ajal kami.. dan kumpulkanlah kami bersama orang- orang yang shaleh setelah ajal kami menjemput..

Perjalanan Kita

Di hamparan bumi....

Selangkah demi selangkah jalan ini kita titi

Bersama roda waktu yang trus melaju tanpa henti

Apa saja yang terjadi ia pun tak peduli

Namun kau dan aku

Tak kenal arti derita

Tak kenal arti putus asa

Karena kita tahu

Inilah kehidupan dunia

Penuh duka dan sengsara

Air mata yang tumpah

Bukan menagih simpati

Bukan pula karna sesal di hati

Tetapi tuk harap Kasih Ilahi

Karena Rahmat-Nya

Seluas lautan tak bertepi

Sesekali waktu...

Kutatap lekat dirimu

Tenang selalu terpancar dari raut wajahmu

Padahal badai besar berada tepat dihadapanmu

Walau kadang kau juga terhempas

Dan aku....

Tak mungkin biarkan kau sendirian

Karena akulah saudaramu

Yang kan berusaha berikan kekuatan

Tak seberapa kumampu

Asal kau dapat lanjutkan perjalanan

Dan kini....

Ruang dan waktu pisahksn kita

Entah tuk sementara atau selamanya

Tapi janji tlah tersemat kuat di pundak kita

Perjuangan tak kan berakhir

Walau kita tak lagi bersama

Semoga Alloh karuniakan

Kekuatan....

Ketabahan...

Keistiqomahan....

Maghfiroh....

Serta Keridhoan pada kita

Dalam berjuang mengarungi

Ranjau-ranjau kehidupan di jalan-Nya

AMIN.....